Cabang baru di panggung terbesar Asia
Perjalanan Indonesia menuju Nagoya dimulai pada November 2025, ketika Dewan Olimpiade Asia (OCA) mengakui Federasi Padel Internasional (FIP) dan Padel Asia, sekaligus memasukkan padel ke dalam program cabang olahraga Asian Games XX Aichi-Nagoya 2026. Keputusan tersebut diumumkan di Kuwait di sela penyelenggaraan FIP World Cup Pairs perdana, dan dipandang sebagai langkah menuju ambisi jangka panjang padel untuk tampil di Olimpiade.
Pada 6 Maret 2026, status padel resmi dikukuhkan setelah Panitia Penyelenggara Asian Games Aichi-Nagoya (AINAGOC), OCA, dan FIP menandatangani Nota Kesepahaman yang menetapkan padel sebagai cabang olahraga yang memperebutkan medali, dengan nomor ganda putra dan ganda putri.
PBPI menjadikan Nagoya prioritas utama
Perkumpulan Besar Padel Indonesia (PBPI) menetapkan arah sejak awal. Dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) perdananya pada 4 Desember 2025, Ketua Umum PBPI Galih Dimuntur Kartasasmita menegaskan bahwa Asian Games Nagoya menjadi fokus utama federasi pada 2026, dengan perhatian khusus pada penguatan timnas putri setelah mencetak sejarah sebagai semifinalis sekaligus peraih medali perunggu FIP Asia Padel Cup 2025.
Sepanjang paruh pertama 2026, para pemain terbaik Indonesia menambah jam terbang di CUPRA FIP Tour di berbagai negara Asia. Rangkaian turnamen di dalam negeri terbukti sangat berharga: pada Mei, Novela Putria menjuarai FIP Bronze Yogyakarta, salah satu hasil terbaik pemain Indonesia musim ini.
Delapan atlet terpilih, tujuan Spanyol
Pada 9 Juli 2026, dalam pembukaan resmi turnamen FIP Bronze dan FIP Promises Jakarta di RANA Grounds, Jakarta Selatan, Galih mengumumkan delapan atlet yang dipersiapkan untuk Asian Games: dua pasangan inti dan dua pasangan cadangan.
Ganda putri: Novela Putria dan Beatrice Gumulya sebagai pasangan inti, dengan Fitriani Sabatini dan Fadona Kusumawati sebagai pasangan cadangan.
Ganda putra: Armando Soemarno dan Valentinus Dyas sebagai pasangan inti, dengan Alvin Edison dan Giorgio Soemarno sebagai pasangan cadangan.
Skuad dijadwalkan bertolak ke Spanyol sekitar 25 Juli untuk menjalani pemusatan latihan intensif hingga 15 September, menyisakan waktu yang sangat singkat menjelang Asian Games. Galih mengakui jadwalnya mepet, namun federasi ingin memaksimalkan setiap pekan di Spanyol dan berharap para atlet pulang dengan peningkatan yang signifikan.
Uji tanding melawan Kazakhstan
Sebelum berangkat, timnas memanfaatkan kehadiran lawan dari luar negeri. Pada 13 Juli 2026, saat para pemain Kazakhstan berada di Indonesia untuk mengikuti rangkaian FIP Bronze, PBPI menggelar laga uji coba antara kedua negara di RANA Grounds.
Wakil Ketua Umum I PBPI Mochtar Sarman menyebut laga tersebut digunakan untuk mengukur gambaran level persaingan di Asian Games. Ia menilai Qatar dan Kuwait sebagai pesaing terkuat, namun yakin Indonesia mampu bersaing dengan negara mana pun dari Asia Tenggara.
Kalender yang padat
Galih menegaskan bahwa perencanaan PBPI tidak berhenti di Nagoya. Segera setelah Asian Games, Indonesia dijadwalkan tampil di Kualifikasi Piala Dunia Padel, dengan putaran final yang digelar awal November, dan federasi berharap pemusatan latihan di Spanyol menjadi bekal untuk kedua ajang tersebut.
Usai pemusatan latihan, skuad bertolak ke Jepang, tempat cabang padel dijadwalkan berlangsung pada 28 September hingga 3 Oktober 2026 di Nagoya City Higashi Sports Center.
Artikel ini merupakan bagian pertama dari seri tiga tulisan PBPI tentang perjuangan padel Indonesia di Asian Games.



